Identifikasi Potensi dan Kendala Wisata Bahari Di Pulau Panggang Kepulauan Seribu

Authors

  • Baihaki Mursid Kiki Fakultas Teknik
  • Mujio SUKIR Universitas Pakuan
  • Yusi Febriani Universitas Pakuan

DOI:

https://doi.org/10.33751/jekota.v2i2.127

Keywords:

Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas, Ancillary Services, Potensi dan Kendala

Abstract

Pulau Panggang di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara merupakan wilayah dengan potensi wisata bahari yang tinggi, didukung oleh keberadaan terumbu karang, ekosistem mangrove, dan budaya maritim lokal. Namun, pengembangan pariwisata di wilayah ini masih menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan infarstruktur, minimnya fasilitas pendukung, rendahnya aksesibilitas transportasi, serta kurangnya promosi wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan kendala wisata bahari di Pulau Panggang melalui analisis deskriptif kualitatif, berdasarkan empat variabel utama yaitu atraksi, amenitas, aksesibilitas, dan ancillary services. Data diperoleh melalui observasi lapangan, dokumentasi dan wawancara kepada masyarakat lokal. Sedangkan metode analisis data menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Panggang memiliki potensi wisata bahari dengan atraksi wisata beragam, yakni atraksi wisata alam, budaya, buatan, dan kegiatan wisata. Atraksi wisata alam berupa keindahan pantai dan terumbu karang; atraksi wisata buatan berupa rumah apung dan keramba apung. Atraksi wisata budaya berupa kuliner khas laut dan tradisi nelayan. Kegiatan wisata di pulau panggang juga cukup beragam seperti memancing dan snorkeling. Selain itu potensi juga terdapat di amenitas berupa toilet umum, pos keamanan, puskesmas, masjid, mushola, warung, jaringan listrik dan jaringan internet; aksesibilitas yang baik; serta ancillary service seperti informasi wisata dan pelayanan pendukung. Namun wisata bahari di Pulau Panggang masih memiliki beberapa kendala seperti kurangnya pengelolaan dan interpretasi atraksi profesional; masih terbatasnya amenitas dan belum mampu mendukung sepenuhnya pengembangan wisata bahari secara optimal; terbatasnya transportasi laut untuk menuju Pulau Panggang karena memiliki jam tertentu untuk menyebrang dan kembali ke pelabuhan; serta belum terdapatnya pusat informasi wisata atau pemandu wisata resmi yang dapat memberikan edukasi atau bimbingan kepada pengunjung.

 

Kata Kunci: atraksi, amenitas, aksesibilitas, ancillary service, potensi dan kendala

ABSTRACT

Panggang Island in the North Thousand Islands District is an area with high marine tourism potential, supported by the presence of coral reefs, mangrove ecosystems, and local maritime culture. However, tourism development in this area still faces various challenges such as limited infrastructure, a lack of supporting facilities, low transportation accessibility, and a lack of tourism promotion. This study aims to identify the potential and constraints of marine tourism on Panggang Island through qualitative descriptive analysis, based on four main variables, namely attractions, amenities, accessibility, and ancillary services. Data were obtained through field observations, documentation, and interviews with local communities. Meanwhile, the data analysis method used qualitative descriptive analysis. The results of the study show that Panggang Island has marine tourism potential with various tourist attractions, namely natural, cultural, man-made, and tourist activities. Natural tourist attractions include beautiful beaches and coral reefs; man-made tourist attractions include floating houses and floating cages. Cultural tourist attractions include seafood cuisine and fishing traditions. Tourist activities on Panggang Island are also quite diverse, such as fishing and snorkeling. In addition, there is also potential in amenities such as public toilets, security posts, health centers, mosques, prayer rooms, food stalls, electricity and internet networks; good accessibility; and ancillary services such as tourist information and support services. However, marine tourism on Panggang Island still faces several obstacles, such as a lack of professional management and interpretation of attractions; limited amenities that are not yet able to fully support the optimal development of marine tourism; limited sea transportation to Panggang Island due to specific hours for crossing and returning to the port; and the absence of a tourist information center or official tour guides who can provide education or guidance to visitors.

 

Keywords: attractions, amenities, accessibility, ancillary services, potential and challenges

References

BPS Kabupaten Kepulauan Seribu. (2024). Kecamatan Kepulauan Seribu Utara Dalam Angka 2024. Kabupaten Kepulauan Seribu: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Seribu.

Bupati Kabupaten Kepulauan Seribu. (2023). Rencana Strategis Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Utara Tahun 2023-2026. Sub Bappenda Kepulauan Seribu.

Darsoprayitno, S. (2002). Ekologi Pariwisata: Tata Laksana Pengelolaan Obyek dan Daya Tarik Wisata. Bandung: Angkasa.

Direktorat Jenderal Pariwisata Republik Indonesia. (2004). Pedoman Pengembangan Destinasi Pariwisata. Jakarta: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.

Gubernur DKI Jakarta. (2012). Peraturan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No 1 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta Tahun 2030. DCKTRP.

Gubernur DKI Jakarta. (2022). Peraturan Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No 31 Tahun 2022 Tentang Rencana Detail Tata Ruang DKI Jakarta 2022. DCKTRP.

Marpaung. H. (2002). Pengetahuan Kepariwisataan. Bandung: Alfabeta.

Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Menteri Kelautan dan Perikanan. (2021). Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Tahun 2021 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) Provinsi DKI Jakarta. Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Nuraisyah, S. (2020). Pengembangan Wisata Religi di Situ Panjalu Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis (Skripsi, Universitas Pendidikan Indonesia). Universitas Pendidikan Indonesia Repository.

Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan

Pendit. N.S (2003). Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Yogyakarta: Pradnya Paramita.

Steele, P. (1995). Ecotourism: An Economic Analysis. Journal of Sustainable Tourism, 3(1), 29–44. https://doi.org/10.1080/09669589509510706

Suwantoro, G. (2004). Dasar- Dasar Pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset.

White, K.J. (1994). Tourism and the Antarctic Economy. Annals of Tourism Research, Vol. 2, No. 2, 245-268. https://doi.org/10.1016/0160-7383(94)90043-4

Yanuadi, A., Mulyawati, L. S., & Dewi, I. K. (2024). Characteristics of Ketapang Urban Aquaculture as a Tourism Destination in Tangerang Regency, Banten Province. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 19(2), 52-69.

Yoeti, O.A. (1996). Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa.

Downloads

Published

30-12-2025

How to Cite

Kiki, B. M., SUKIR, M., & Febriani, Y. (2025). Identifikasi Potensi dan Kendala Wisata Bahari Di Pulau Panggang Kepulauan Seribu. Jendela Kota: Jurnal Perencanaan Dan Pengembangan Wilayah Dan Kota, 2(2), 91–103. https://doi.org/10.33751/jekota.v2i2.127