Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota https://jekota-ft.unpak.ac.id/index.php/jekota <p>Jekota: Jurnal Jendela Kota adalah jurnal akademik berdasarkan peer-reviewed. Jurnal diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Februari dan Juli) oleh Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Pakuan.</p> Universitas Pakuan en-US Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota 3063-8232 Arahan Pengembangan Objek Wisata di Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor https://jekota-ft.unpak.ac.id/index.php/jekota/article/view/113 <p><strong><em>ABSTRAK</em></strong></p> <p><em>Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memicu pembangunan suatu daerah baik dari segi ekonomi, infrastruktur, sosial budaya, dan lingkungan. Pariwisata di Kecamatan Jonggol memiliki beragam objek wisata sehingga menjadi peluang untuk dikembangkan. Saat ini Kecamatan Jonggol masuk ke dalam Kawasan Pengembangan Pariwisata Daerah (KSPD) Cileungsi-Jonggol. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting 10 objek wisata di Kecamatan Jonggol berdasarkan 4 variabel yaitu atraksi, wisata, aksesibilitas, amenitas, dan ancillary service, potensi dan kendala pariwisata pada tiap variabel di Kecamatan Jonggol, serta menyusun arahan pengembangan pariwisata di Kecamatan Jonggol. Metode pengumpulan data meliputi observasi lapangan, dokumentasi, penyebaran kuesioner, wawancara, survei instansi, dan studi literatur. Metode analisis menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 objek wisata memiliki kondisi atraksi, wisata, aksesibilitas, amenitas, dan ancillary service yang beragam, tetapi kesepuluh objek wisata tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam 4 klaster berdasarkan persamaan potensi dan kendalanya. Klaster 1 merupakan objek wisata yang memiliki potensi sangat baik, dan kendala minimal; klaster merupakan objek wisata yang memiliki potensi baik dan kendala sedang; klaster 3 merupakan objek wisata dengan pootensi cukup baik dan kendala cukup besar, sementara klaster 4 merupakan objek wisata dengan potensi rendah dan kendala tinggi. Dari empat klaster tersebut dibuat arahan pengembangan pariwisata, dimana klaster 1 difokuskan pada inovasi atraksi, peningkatan branding, dan fasilitas disabilitas; klaster 2 difokuskan pada perbaikan jalan, peningkatan amenitas, dan penguatan promosi; klaster 3 difokuskan pada perbaikan akses, penyediaan amenitas dasar, dan penguatan event wisata, sedangkan klaster 4 difokuskan pada revitalisasi total, perbaikan akses, penyediaan amenitas dasar, dan promosi intensif. </em></p> <p><strong><em>Kata Kunci</em></strong><em>: Arahan Pengembangan, Kendala, Pariwisata, Potensi</em><strong><em><br /></em></strong></p> <p><strong><em>ABSTRACT </em></strong></p> <p><em>Tourism is one of the sectors that drives regional development in terms of the economy, infrastructure, socio-culture, and the environment. Tourism in Jonggol Subdistrict features a variety of tourist attractions, presenting opportunities for development. Currently, Jonggol Subdistrict is part of the Cileungsi-Jonggol Regional Tourism Development Zone (KSPD). This study aims to identify the current conditions of 10 tourist attractions in Jonggol Subdistrict based on four variables—attractions, tourism, accessibility, amenities, and ancillary services—as well as the tourism potential and constraints associated with each variable in Jonggol Subdistrict, and to formulate guidelines for tourism development in Jonggol Subdistrict. Data collection methods included field observations, documentation, questionnaire distribution, interviews, institutional surveys, and literature reviews. The analysis method employed qualitative descriptive analysis. The research findings indicate that the 10 tourist attractions exhibit diverse conditions regarding attractions, tourism, accessibility, amenities, and ancillary services; however, these 10 attractions can be classified into 4 clusters based on similarities in their potential and constraints. Cluster 1 consists of tourist attractions with very good potential and minimal constraints; Cluster 2 consists of tourist attractions with good potential and moderate constraints; Cluster 3 consists of tourist attractions with fairly good potential and significant constraints, while Cluster 4 consists of tourist attractions with low potential and high constraints. Based on these four clusters, tourism development guidelines were established: Cluster 1 focuses on attraction innovation, branding enhancement, and accessibility for people with disabilities; Cluster 2 focuses on road improvements, enhanced amenities, and strengthened promotion; Cluster 3 focuses on improving access, providing basic amenities, and strengthening tourism events, while Cluster 4 focuses on total revitalization, improving access, providing basic amenities, and intensive promotion.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Constraints, Directions of Development, Potential, Tourism</em></p> Firdan Fardani Lilis Sri Mulyawati Novida Waskitaningsih Copyright (c) 2026 Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-02-28 2026-02-28 3 1 1 9 10.33751/jekota.v3i1.113 Analisis Pusat-Pusat Pelayanan Di Kota Sukabumi https://jekota-ft.unpak.ac.id/index.php/jekota/article/view/132 <p><strong><em>ABSTRAK</em></strong></p> <p><em>Pusat-pusat pelayanan merupakan suatu aktivitas dari berbagai sarana dan prasarana yang dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah. Pembangunan pusat-pusat pelayanan selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat juga diharapkan mampu mendukung pengembangan wilayah. Adapun tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi struktur pusat-pusat pelayanan di Kota Sukabumi, (2) Menganalisis kesesuaian struktur pusat-pusat pelayanan di Kota Sukabumi dengan arahan struktur pusat pelayanan di RTRW. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui survei lapangan, studi dokumentasi, serta pengumpulan data sekunder yang bersumber dari instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan dokumen RTRW Kota Sukabumi, kemudian dianalisis menggunakan analisis Zipf's Law, Skalogram, dan Indeks Sentralitas. Berdasarkan hasil analisis Zipf's Law, Skalogram, dan Indeks Sentralitas terdapat fungsi hierarki yang tidak sama. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa Kecamatan Cikole, Kecamatan Gunungpuuh, dan Kecamatan Warudoyong </em><em>termasuk kedalam hierarki Pusat Pelayanan Kota (PPK)</em><em>, </em><em>kemudian </em><em>Kecamatan Citamiang</em><em> termasuk kedalam hierarki Sub Pusat Pelayanan Kota</em><em> (SPPK), dan Kecamatan Lembursitu, Kecamatan Cibeureum, dan Kecamatan Baros </em><em>termasuk kedalam Pusat Pelayanan Lingkungan </em><em>(PPL). Setelah menganalisis kesesuaian struktur pusat-pusat pelayanan di Kota Sukabumi berdasarkan hasil analisis dan RTRW, terdapat beberapa kecamatan yang perlu dikembangkan sesuai dengan peraturan RTRW, seperti Kecamatan Cibeureum, Kecamatan Lembursitu, dan Kecamatan Baros.</em></p> <p><em> </em><strong><em>Kata Kunci</em></strong><em>: indeks sentralitas</em><em>,</em><em> skalogram,</em> <em>zip’f la</em><em>w.</em></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em> </em></strong><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Service centers represent an activity of various facilities and infrastructure that can support the growth and development of a region. The development of service centers, in addition to meeting the needs of the community, is also expected to support regional development. The objectives of this study are: (1) To identify the structure of service centers in Sukabumi City, (2) To analyze the conformity of the service center structure in Sukabumi City with the directions of the service center structure in the Regional Spatial Plan (RTRW). This study employs a descriptive quantitative method with data collection techniques through field surveys, documentation studies, and secondary data collection sourced from relevant agencies such as the Central Statistics Agency (BPS) and the Sukabumi City RTRW document, which were then analyzed using Zipf's Law, Scalogram, and Centrality Index analyses. Based on the results of the Zipf's Law, Scalogram, and Centrality Index analyses, there are differing hierarchical functions. The analysis results indicate that Cikole District, Gunungpuyuh District, and Warudoyong District are classified under the City Service Center (PPK) hierarchy, Citamiang District is classified under the Sub City Service Center (SPPK) hierarchy, and Lembursitu District, Cibeureum District, and Baros District are classified under the Neighborhood Service Center (PPL) hierarchy. After analyzing the conformity of the service center structure in Sukabumi City based on the analysis results and the RTRW, there are several districts that need to be developed in accordance with the RTRW regulations, namely Cibeureum District, Lembursitu District, and Baros District.</em></p> <p><em> </em><strong><em>Keywords</em></strong><em>: index centralit, scalogram</em><em>,</em> <em>zip’f law. </em></p> Sasni Syakila Agustina Janthy Trilusianthy Hidayat Novida Waskitaningsih Copyright (c) 2026 Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-05-21 2026-05-21 3 1 10 25 10.33751/jekota.v3i1.132 Identifikasi Kinerja Simpang Sawangan Permai Kota Depok https://jekota-ft.unpak.ac.id/index.php/jekota/article/view/136 <p><strong><em>ABSTRAK </em></strong></p> <p><em>Permasalahan lalu lintas sering terjadi di kota-kota besar, salah satunya di Simpang Sawangan Permai, Kecamatan Sawangan, Kota Depok yang memiliki tingkat kepadatan cukup tinggi. Meningkatnya jumlah penduduk sejalan dengan meningkatnya kebutuhan transportasi, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan antara jumlah kendaraan dengan kapasitas jalan yang tersedia dan berujung pada kemacetan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi simpang dan menilai kinerja simpang serta faktor penyebab kemacetan. Metode pengumpulan data menggunakan observasi langsung melalui traffic counting. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif deskriptif, meliputi analisis volume lalu lintas, kapasitas simpang serta kinerja simpang menggunakan acuan PKJI 2023, serta analisis deskriptif pengaruh penggunaan lahan terhadap transportasi berdasarkan penelitian terdahulu. Hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas simpang sebenarnya sebesar 2.109 SMP/jam pada jam puncak pagi dengan qtotal 1953 SMP/jam. Nilai DJ sebesar 0,93 melebihi kriteria simpang &gt;0,85 sehingga simpang dianggap tidak memadai. Nilai tundaan sebesar 16,44 SMP/detik menunjukkan rata-rata kendaraan mengalami keterlambatan. Peluang antrean berada pada rentang 34,48%–67,83%, yang mengindikasikan hampir dua pertiga kendaraan akan mengalami tingkat kerawanan antrean sedang hingga tinggi. Faktor hambatan samping dipengaruhi oleh aktivitas komersial seperti perdagangan, parkir kendaraan, serta pergerakan pejalan kaki di sekitar simpang.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Kata Kunci</em></strong><em>: kemacetan, kinerja simpang, simpang</em></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>ABSTRACT </em></strong></p> <p><em>Traffic problems often occur in major cities, one of which is at the Sawangan Permai Intersection, Sawangan District, Depok City, which has a relatively high level of density. The increase in population is in line with the increasing need for transportation, resulting in an imbalance between the number of vehicles and the available road capacity, which leads to congestion. This study aims to determine the condition of the intersection and assess the intersection performance as well as the factors causing congestion. The data collection method used was direct observation through traffic counting. The analytical method used in this study is descriptive quantitative, including analysis of traffic volume, intersection capacity, and intersection performance using the PKJI 2023 as a reference, as well as descriptive analysis of the influence of land use on transportation based on previous studies.The results of the analysis show that the actual intersection capacity is 2.109 pcu/hour during the morning peak hour with a total flow (qtotal) of 1.953 pcu/hour. The degree of saturation (DS) value is 0,93, exceeding the intersection criteria of &gt;0,85, so the intersection is considered inadequate. The delay value of 16,44 sec/pcu indicates that vehicles experience delays. The queue probability is in the range of 34,48%–67,83%, which indicates that nearly two-thirds of vehicles will experience a moderate to high level of queuing probability. Side friction factors are influenced by commercial activities such as trading, vehicle parking, and pedestrian movements around the intersection.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Traffic Congestion, Intersection Performance, Intersection</em></p> Rizky Gustyanshah Umar Mansyur Gde Ngurah Purnama Jaya Copyright (c) 2026 Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-05-21 2026-05-21 3 1 26 35 10.33751/jekota.v3i1.136