Strategi Tata Kelola Integrasi Infrastruktur Lintas Daerah Berbasis Delineasi KSP Kawasan Perbatasan WKP I Provinsi Banten

Authors

  • Isvan Taufik Dinas PUPR Provinsi Banten
  • Japar Japar Dinas PUPR Provinsi Banten
  • Nunuk Dwi Maryati Dinas PUPR Provinsi Banten
  • Resti Meliana Sari Dinas PUPR Provinsi Banten
  • Eneng Dayu Saidah Tenaga Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota
  • Fidelis Awig Atmoko Tenaga Ahli Geografi

DOI:

https://doi.org/10.33751/jekota.v3i1.150

Keywords:

Analytical Hierarchy Process, Integrasi Infrastruktur, Kawasan Strategis Provinsi (KSP), Kawasan Perbatasan, Ranpergub

Abstract

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan menetapkan delineasi Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Kawasan Perbatasan Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) I Provinsi Banten serta merumuskan strategi tata kelola integrasi infrastruktur lintas daerah yang operasional. Pendekatan yang digunakan adalah mixed-method melalui (i) analisis isi kebijakan penataan ruang lintas level (nasional-pulau-KSN-provinsi-kabupaten/kota), (ii) analisis ekonomi regional (LQ, SSA, dan tipologi Klassen) berbasis data PDRB 2020-2024, serta (iii) penilaian multikriteria menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan uji sensitivitas untuk memeringkat 29 koridor/pasangan kecamatan perbatasan sebagai alternatif prioritas. Hasil menunjukkan WKP I merupakan kontributor utama perekonomian Banten (±58,21% PDRB provinsi) dengan polarisasi fungsi yang saling melengkapi: Kabupaten Tangerang berfungsi sebagai pusat industri manufaktur, Kota Tangerang sebagai pusat logistik, dan Kota Tangerang Selatan berfungsi sebagai pusat jasa, permukiman, dan inovasi. AHP menempatkan Potensi Ekonomi sebagai penentu dominan (w=0,724), diikuti Sistem Transportasi (w=0,193) dan Fungsi Peruntukan Ruang (w=0,083). Berdasarkan pemeringkatan 29 koridor perbatasan, koridor prioritas yang memiliki nilai strategis logistik, industri, niaga, dan kawasan berbasis transit adalah Benda-Kosambi, Jatiuwung-Curug-Pasarkemis, Ciledug-Pondok Aren, dan Serpong-Pagedangan-Cisauk. Koridor-koridor tersebut konsisten pada uji sensitivitas bobot, sehingga layak menjadi fokus penahapan program. Delineasi akhir membagi kawasan menjadi empat tipologi yang membedakan Kawasan Pusat Pertumbuhan (KPP) serta Kawasan Perbatasan Lainnya sebagai sasaran paket layanan dasar minimum. Penelitian merekomendasikan percepatan penetapan Ranpergub KSP WKP I yang mengikat kelembagaan koordinasi lintas kabupaten/kota, penahapan program 2026-2036, skema pembiayaan multi-sumber, dan indikator kinerja bersama agar integrasi infrastruktur dapat diimplementasikan secara terukur.

 Kata Kunci: Analytical Hierarchy Process; Integrasi Infrastruktur; Kawasan Strategis Provinsi (KSP); Kawasan Perbatasan; Ranpergub.

 

ABSTRACT

This study aims to delineate the Provincial Strategic Area (KSP) of the WKP I Border Area in Banten Province and to formulate an operational governance strategy for cross-jurisdiction infrastructure integration. A mixed-method approach is employed through: (i) content analysis of spatial planning policies across multiple levels (national-island-national strategic metropolitan area/KSN-provincial-district/city); (ii) regional economic analysis (Location Quotient, Shift-Share Analysis, and Klassen typology) using GRDP data for 2020-2024; and (iii) multi-criteria assessment using the Analytic Hierarchy Process (AHP) with sensitivity testing to rank 29 border-corridor alternatives (pairs of adjacent subdistricts) by priority. The results indicate that WKP I is the principal contributor to Banten’s economy (≈58.21% of provincial GRDP) with complementary functional polarization: Tangerang Regency serves as a manufacturing-industrial core, Tangerang City as a logistics hub, and South Tangerang City as a center of services, residential development, and innovation. AHP identifies Economic Potential as the dominant criterion (w=0.724), followed by the Transport System (w=0.193) and Spatial Land-Use Function (w=0.083). Based on the ranking of 29 border corridors, the priority corridors with strategic roles in logistics, industry, commerce, and transit-oriented development are Benda-Kosambi, Jatiuwung-Curug-Pasarkemis, Ciledug-Pondok Aren, and Serpong-Pagedangan-Cisauk; these corridors remain consistent under weight-sensitivity scenarios, supporting their use as the focus for program phasing. The final delineation classifies the area into four typologies that distinguish Growth Center Areas (KPP) and other border areas requiring a minimum basic service package. The study recommends accelerating the enactment of a Governor Regulation for KSP WKP I to establish a binding inter-local coordination institution, a phased program framework for 2026-2036, multi-source financing schemes, and shared performance indicators to enable measurable implementation of integrated infrastructure across jurisdictions.

 Keywords: Analytic Hierarchy Process; Border area; Infrastructure Integration; Governor Regulation; Provincial Strategic Area (KSP).

References

Badan Pusat Statistik Provinsi Banten. (2025). Provinsi Banten dalam angka 2025. BPS Provinsi Banten.

Chotimah, H. C. (2016). Intergovernmental cooperation initiative on sustainable transportation management in Jabodetabek. Jurnal Bina Praja, 8(1), 121–133. https://doi.org/10.21787/jbp.08.2016.121-133

Creswell, J. W. (2009). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (3rd ed.). SAGE Publications.

Elhadi, L., & Rahman, M. (2023). Penguatan entitas desa sebagai pusat pertumbuhan (growth pole) ekonomi di kawasan Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis Riau. Jurnal EL-RIYASAH, 14(1), 30–43. https://doi.org/10.24014/jel.v14i1.19213

Firman, T. (2010). Multi local-government under Indonesia’s decentralization reform: The case of Kartamantul (The Greater Yogyakarta). Habitat International, 34(4), 400–405. https://doi.org/10.1016/j.habitatint.2009.11.005

Firman, T., & Dharmapatni, I. A. I. (1995). The emergence of extended metropolitan regions in Indonesia: Jabotabek and Bandung Metropolitan Area. Review of Urban & Regional Development Studies, 7(2), 167–188. https://doi.org/10.1111/j.1467-940X.1995.tb00069.x

Haryono, E. (2023). Metodologi penelitian kualitatif di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. e-journal an-nuur: The Journal of Islamic Studies, 1(1), 1–13.

Hidayati, I. (2023). Breaking the commute barrier: How women in Jabodetabek overcome daily challenges on commuting for work. ETNOSIA: Jurnal Etnografi Indonesia, 8(1), 44–62. https://doi.org/10.31947/etnosia.v8i1.26085

Hudalah, D., Octifanny, Y., Talitha, T., Firman, T., & Phelps, N. A. (2024). From metropolitanization to megaregionalization: Intentionality in the urban restructuring of Java’s North Coast, Indonesia. Journal of Planning Education and Research, 44(1), 292–306. https://doi.org/10.1177/0739456X20967405

Jesly, K. (2016). Pembangunan infrastruktur daerah perbatasan. eJournal Pemerintahan Integratif, 4(3), 404–418.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (n.d.). SPAM Regional Karian–Serpong. SIMPUL KPBU. Diakses 30 Januari 2026, dari:

https://simpulkpbu.pu.go.id/kegiatan/28/spam-regional-kariansorpong

Kurnia, A. A., Rustiadi, E., & Pravitasari, A. E. (2020). Characterizing industrial-dominated suburban formation using quantitative zoning method: The case of Bekasi Regency, Indonesia. Sustainability, 12(19), 8094. https://doi.org/10.3390/su12198094

Malczewski, J. (2006). GIS-based multicriteria decision analysis: A survey of the literature. International Journal of Geographical Information Science, 20(7), 703–726. https://doi.org/10.1080/13658810600661508

Nur, A. A. (2023). Analisis sektor unggulan sebagai daya saing dalam pembangunan wilayah kabupaten. TIN: Terapan Informatika Nusantara, 4(3), 211–217. https://doi.org/10.47065/tin.v4i3.4203

Pemerintah Provinsi Banten. (2023). Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 1 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten Tahun 2023–2043.

Perroux, F. (1955). Notion de « pôle ». Économie appliquée, 307–320.

Prisyarsono, D. S., & Sahara. (2007). Dasar ilmu ekonomi regional (Modul Ekonomi Regional, ESPA4425, 1–35).

Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Republik Indonesia. (2017). Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.

Republik Indonesia. (2020). Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur (Jabodetabekpunjur).

Republik Indonesia. (2023). Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Jawa–Bali.

Saaty, T. L. (2008). Decision making with the analytic hierarchy process. International Journal of Services Sciences, 1(1), 83–98. https://doi.org/10.1504/IJSSCI.2008.017590

Subambang, R. B., Damar, A., Taryono, T., Kurnia, R., & Bengen, D. G. (2024). Inter-regional cooperation for sustainable mangrove management in Jakarta Bay. Jurnal Bina Praja, 16(3), 471–488. https://doi.org/10.21787/jbp.16.2024.471-488

Woltjer, J. (2014). A global review on peri-urban development and planning. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 25(1), 1–16.

Downloads

Published

05-07-2026

How to Cite

Taufik, I. ., Japar, J., Maryati, N. D. ., Sari, R. M., Saidah, E. D., & Atmoko, F. A. (2026). Strategi Tata Kelola Integrasi Infrastruktur Lintas Daerah Berbasis Delineasi KSP Kawasan Perbatasan WKP I Provinsi Banten. Jendela Kota: Jurnal Perencanaan Dan Pengembangan Wilayah Dan Kota, 3(1), 46–65. https://doi.org/10.33751/jekota.v3i1.150